Pengalaman Wisata Taman Nasional/Pulau Komodo NTT (1 of 2)




Gile, judulnya usang baget ya: "Pengalaman Wisata Taman Nasional/Pulau Komodo, NTT"
Tapi yasudahlah, biar temen-temen netizen mudah menemukannya di Google.

TARAAA~ Ini adalah catatan perjalanan saya yang ketiga. 
Kali tempat wisata yang saya datangi berada di luar Jawa dan luar Indonesia bagian barat.

Saya dapat kesempatan emas untuk liburan (dan liputan) ke

 Taman Nasional Komodo 

di Kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, 

Nusa Tenggara Timur (NTT)



Peta Taman Nasional Komodo NTT


KENAPA PULAU KOMODO?
1. Terpilih jadi salah satu THE NEW 7 WONDERS OF NATURE (yang dulu divoting via web tahun 2011) bersama tempat-tempat kece lainnya. CEK DI SINI

2.  KOMODO cuma ada di INDONESIA! Masa kita yang orang Indonesia gak pernah liat? :)
Well, ada juga sih Kebun Binatang Ragunan, Jakarta. Tapi di dalam sangkar.. Atau di negara lain untuk penelitian. Tapi, yang terpenting adalah rumah komodo dragon cuma di Nusantara raya!.

3. Bukit, laut dan pantainya super cantik! 

4. Hotel udah cukup banyak, kendaraan juga. Sudah layak menjadi tempat wisata deh.

Tapi.....Karena saya males ngetik lagi, jadi saya akan copas tulisan liputan saya saja yaa hahaha *ditoyor*

Ini adalah tulisan saya sebelum diedit oleh yang mulia mbake editor..
((Kali ini gue optimis kalo tulisan gue sebelum diedit lebih oke dibanding sama hasil editan doi)) 
Wkwk.. Ampun Mbak Quin 
*besoknya di-SP*

Sebagai selingan, sekaligus bisa dengar hasil liputan feature radio saya lewat audio di bawah ini.
Tapi, karena yang naik siar di radio adalah tulisan yang sudah diedit oleh sang editor alias Mbak Quin, jadi aku akan berikan file audionya di sini....



EPISODE 1 dari 2

Menduniakan Taman Nasional Komodo di Mata Internasional (Bagian 1)
Kamis, 17 September 2015 09.01 WIB


Dermaga dekat Pulao Komodo, NTT. Foto: PortalKBR.



EPISODE 2 dari 2

Menduniakan Taman Nasional Komodo di Mata Internasional (Bagian 2)

Jumat, 18 September 2015 10.48 WIB


Gerombolan Komodo di Taman Nasional. Foto: KBR






















































































Sembari mendengarkan hasil liputan di atas, monggo sambil moco-moco hasil liputan perjalanan saya berikut ini. Saya copy paste langsung dari naskah format radio. Jadi bisa buat belajar dan jadi contoh juga untuk teman-teman yang mungkin mau nulis naskah radio.  


Penjelasan istilah
Atmos (atmosfer): natural sound yang akan menjadi latar suara (backsound)
Stand-up: suara reporter di TKP yang berbicara menjelaskan sesuatu
Insert: suara narasumber
===

BLOK 1
Fokus: keindahan TN Komodo

Pengantar: Pulau Komodo ditetapkan menjadi salah satu dari 7 keajaiban alam dunia (New 7 Wonders of Nature) pada 2011. Para turis lokal dan mancanegara pun berbondong-bondong datang ke Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Kali ini KBR akan berkunjung dan melihat seperti apa wisata dunia milik Indonesia ini. Berikut laporan bagian pertama Reporter KBR Aisyah Khairunisa.
---

Atmos pramugari Garuda sebelum landing di Bandara Komodo
“Kita akan mendarat di Bandara Komodo di Labuan Bajo. Waktu setempat sekarang menunjukkan pukul 14 lewat 12 menit. Tidak ada perbedaan waktu antara Labuan Bajo dan Denpasar, Bali,”

Pemberitahuan dari pramugari pesawat baling-baling Garuda Indonesia sesaat sebelum saya mendarat di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, membuat saya sontak menerawang ke luar jendela pesawat. Gradasi warna hijau dan biru laut di ujung barat Pulau NTT kontras dengan bukit dan tanah tandus yang menjulang di tepi lautnya.

Stand-up Ais sampai di Bandara Komodo
“Nah saya sekarang sudah sampai di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Ini adalah pintu masuk para turis untuk melihat Taman Nasional Komodo dan wisata indah lainnya di NTT. Suhu siang ini adalah 34 derajat celcius. Teriikk sekali..”  

Sesampainya saya di tanah NTT, hal pertama yang ingin saya lihat adalah komodo. Saya sangat penasaran dengan naga purba langka yang hanya ada di Indonesia.

Atmos Helmi ngobrol..

Perjalanan saya kali ini akan ditemani Kepala Taman Nasional Komodo, Pak Helmi. Pak Helmi ini adalah rimbawan sejati. Sejak lulus kuliah hingga sekarang ia sudah pernah mengurus 8 taman nasional di Indonesia, yang terakhir Taman Nasional Komodo ini.

“Ada beberapa pulau yang memang dikhususkan untuk wisatawan melihat komodo. Seperti Pulau Komodo dan Rinca. Adapun pulau yang tidak dikunjungi oleh wisatawan, Gili Motang dan Nusa Kuning itu di sana ada komodo juga. Tidak dibuka untuk wisatawan. Ini kombinasi manusia dan alam. Di sisi lain ada konservasinya, ada yang bersentuh dan berinteraksi dengan manusia,” penjelasan Helmi di Kantor Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, Selasa (1/9/2015).

Oke, itu berarti untuk bisa melihat komodo saya harus datang ke dua pulau ini: Pulau Komodo dan Pulau Rinca.

Atmos naik speedboat

Perjalanan dengan speedboat ditempuh selama 1 jam, sementara dengan perahu motor bisa dua jam. Selama perjalanan itu di kiri kanan depan belakang saya adalah pulau-pulau kecil dengan bukit tinggi. Melalui gugusan pulau ini membuat saya benar-benar sadar bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dan pantas menjadi poros maritim dunia.

Atmos guide (Nama: Ramsi) tanya jawab sama pengunjung
“Selamat pagi semua (turis: pagiiii). Selamat datang di Pulau Rinca. Nah untuk mempersingkat waktu...”
“Pak tunggu pak, satu pertanyaan lagi, kalau misalnya kita lagi tracking terus ada komodo yang mendekat, cara ngusirnya gimana?”
“Ada instruksi pemandu nantinya. Kalau pemandu bilang, menepi, yaudah menepi. Kalau pemandu bilang lari, baru lari.  (turis: HAAAHH?? Lari???)..”
“Ada tambahan, kalau misalnya ibu dikejar komodo, jangan lari lurus, lari zig-zag. Karena dia (komodo) tidak bisa zig-zag”

Oke, semoga saya tidak perlu lari zigzag di pulau ini.

Atmos jalan dan takjub liat komodo

Lima menit tracking di Pulau Rinca, saya sudah menemui gerombolan komodo. Beruntung, kali itu ada dua komodo yang tengah unjuk gigi. Mereka bertarung memperebutkan betina. Tapi meski liur komodo mematikan, jika ada komodo yang digigit komodo lain, komodo itu tak akan mati. Karena mereka punya antibodi sendiri.

Atmos ramai liat komodo berantem

Ternyata bukan saya saja yang takjub, para turis yang sebagian besar wisatawan mancanegara juga langsung sigap meraih kameranya.

“Oh it’s beautiful. Yes, it was great to see such a big dragons,” kata Monica (50), turis asal German.

“Sangat takjub banget ya. Komodo cukup memacu adrenalin melihat sisa-sisa hewan purbakala. Dan tentunya kehidupan alam yang sangat indah,” ujar Luqman (27), turis lokal yang datang dari Jakarta.

“When you are here you have to see them. Because you don’t have the chance to see this animals somewhere else in the world. So, it’s cool,” cerita Paul (63), warga Inggris yang berlibur ke Komodo.

Saya semakin bangga, menurut data Taman Nasional Komodo, mayoritas turis yang datang ke Pulau ini adalah turis asing. Salah satu pemicunya adalah penetapan komodo sebagai New 7 Wonders of Nature pada 2011 lalu.

Tapi meski sudah menjadi wisata dunia, ternyata kondisi dan fasilitas di Taman Nasional Komodo masih minim. Kenapa? Simak lanjutannya esok.

Demikian SAGA KBR, saya Aisyah Khairunnisa, terima kasih sudah mendegarkan.

====

BLOK 2
Fokus: Kelemahan pengelolaan wisata di TN Komodo

Pengantar: Keindahan Pulau Komodo sebagai wisata dunia memang tak bisa dielakkan. Terlebih setelah Pulau Komodo ditetapkan sebagai salah satu 7 keajaiban alam dunia pada 2012. Tapi apakah pelayanan dan fasilitas pariwisata di sana sudah sesuai dengan taraf internasional? Berikut laporan bagian kedua Reporter KBR Aisyah Khairunnisa.
----

Atmos turis panik hampir tenggelam di sekoci
“Pak, pak, air masuk pak! Balik lagi pak.. Ke pinggir, ke pinggir...!”

Sekoci yang saya naiki petang itu nyaris karam. Perahu kecil berukuran 5 x 1 meter itu kelebihan muatan. Langit di Pulau Padar, Nusa Tenggara Timur pukul setengah tujuh malam sudah gelap. Sehingga sang juru kemudi memaksa supaya semua rombongan bisa naik sekoci sekali jalan. Agar bisa segera meninggalkan pulau dan sampai ke speedboat yang menunggu sekitar 200 meter dari bibir pantai.

Seharusnya kami tak perlu naik sekoci, jika saja speedboat yang membawa kami ke pulau ini bisa bersandar di dermaga. Tapi sayang, Pulau Padar dan sejumlah pulau lainnya di Taman Nasional Komodo tak punya dermaga.

Bahkan, di pulau-pulau besar yang sering dikunjungi, seperti Pulau Komodo dan Rinca hanya dilengkapi dengan dermaga kayu. Kepala Taman Nasional Komodo, Helmi.

“Nah ini kalau sudah muatan dunia juga harus dunia dong.Pada saat cruise (kapal pesiar) datang, sesungguhnya kita sudah berupaya melalui Kementerian Perhubungan buat dermaga panjang, namun ya itulah mungkin pendekatan kita salah. Setelah ada cruise ya ternyata kurang panjang. Karena kami juga punya dermaga. Tapi kurang ditinggikan karena kan bule bule tinggi. Jadi memang harus betul-betul dihitung," kata Helmi di Kantor Taman Nasional Komodo di Kota Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Selasa (1/9/2015).

Helmi mengakui ada sejumlah perhitungan yang salah dalam membangun dermaga, Misal, tidak adanya teknologi mesin hidrolik yang bisa menggerakkan ujung dermaga naik turun sehingga ketinggiannya dapat disesuaikan dengan ketinggian kapal.

Keberadaan dermaga besar dianggap penting lantaran sepertiga turis asing yang datang ke Komodo menggunakan kapal pesiar. Menurut catatan Taman Nasional, sejak enam bulan terakhir, tercatat sudah ada lebih dari 34 ribu wisatawan asing yang datang ke Pulau Komodo. Pada Januari – Juni 2015 ada 10 ribu lebih turis yang datang dengan kapal pesiar. Dengan jumlah kapal pesiar di pada Januari hingga Juni 2015 sekitar 20 kapal.

“Di Indonesia belum ada port untuk kapal cruise (kapal pesiar). Berhenti di tengah laut, di TN Komodo, nanti dilanjut dengan kapal kecil kapasitas sampai 30 orang. Jadi pada saat musim Oktober – Januari itu kapal cruise meningkat jumlahnya. Bisa sampai 2 ribu orang (per cruise) kita layani dalam satu pemanduan,” kata Helmi kepada KBR.

Atmos naik speedboat

Transportasi utama di Taman Nasional Komodo adalah perahu, kapal atau speedboat. Ini lantaran setiap pulau berjarak cukup jauh. Sekitar 1 hingga 2 jam perjalanan laut. Puluhan kapal yang siap mengantar turis, bersandar di Labuan Bajo yang menjadi titik awal pemberangkatan.
Sayangnya, menurut wisatawan lokal asal Jakarta, Dikdik, pemerintah setempat tak menuliskan patokan harga untuk penyewaan perahu-perahu tersebut. Walhasil, ia sempat kena jebak agen perjalanan yang mengerek harga perahu menjadi tinggi.

“Orang kesini itu untuk dapat detail dia mau jalan ke sini itu yang belum jelas. Misalnya mau sewa boat. Estimasinya gambarnya apa, pas diliat (lebih jelek dari gambar). Kalau mau dari sisi Pemda-nya arrange itu. Pengaturan kapal-kapal. Kapal ini standarnya berapa rate-nya. Kapal modern-nya berapa rate-nya. Sehingga yang jauh-jauh itu akan pingin (ke sini). Kayak saya mungkin kalau mau bawa keluarga ke sini bingung mau lewat travel mana. Direct (langsung pesan di pelabuhan) takut kejeblos (mahal) harganya. Tapi kalau mesen dari Jakarta takut kejadian kayak kemarin. Antara gambar dan aktualnya beda,” kata Dikdik (35) turis asal Jakarta yang ditemui di Bandara Komodo, Selasa (1/9/2015).

Sementara yang dipermasalahkan turis asing adalah minimnya akses penerbangan ke Taman Nasional Komodo. Saat ini hanya ada tiga maskapai yang melayani penerbangan menuju Bandara Komodo di Labuan Bajo. Bandara ini adalah bandara terdekat dari Pulau Komodo. Namun penerbangan ke Labuan Bajo hanya ada dari Denpasar, Bali dan Kupang, NTT. Turis asing asal German, Monica (50).

“Maybe it would be better to have more flights coming here. It’s a long way. You have to go to Denpasar first, and then you can come to Komodo. Maybe it’s better to have a flight from Singapore or Kuala Lumpur. So it’s better for coming from Germany or europe,” ujar Monica saat diwawancari KBR di Labuan Bajo, Selasa (2/9/2015).

Menanggapi hal ini, Menteri Perhubungan Iganasius Jonan menyatakan pemerintah tak bisa memaksa maskapai untuk membuka rute penerbangan.

“Kalau penerbangan sipil, penerbangan komersial itu sifatnya pasar aja yg menentukan. Pemerintah tidak bisa dorong itu. Kalau misalnya pesawat lain harus masuk, itu gak bisa, terserah mereka mau masuk, mau nggak,” kata Jonan saat diwawancarai KBR di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (9/9/2015).

Selain masalah transportasi, turis mancanegara juga menyayangkan kondisi jalan utama di Kabupaten Labuan Bajo yang minim penerangan saat malam. Serta sampah yang tersebar di pelabuhan dan pantai.

“I would say that the goverment should do something againts the rubbish everywhere. Because sometimes when you are on the beach down here. It’s just crowded with the rubbbish. But people clean it very fast. So that’s good. But, when you are in the boat, in the port, it’s very dirty, the water,” kata Monica (25), seorang pekerja sosial asal Inggris.

Membangun dan mempercantik Taman Nasional Komodo terus dilakukan. Lalu apakah pemerintah sudah cukup memberdayakan warga sekitar taman nasional? Simak laporan bagian akhir, esok.

Demikian SAGA KBR, saya Aisyah Khairunnisa, terima kasih sudah mendegarkan.

==== 

BLOK 3
Fokus: Pemberdayaan warga sekitar

Pengantar: Pemerintah mengklaim pengelolaan Taman Nasional Komodo memakai prinsip “Membangun NTT”, bukan “Membangun di NTT”. Itu artinya, masyarakat sekitar Komodo harus diberdayakan untuk membangun kawasan wisata dunia yang layak.  Seperti apa pemberdayaan masyarakat NTT dalam Taman Nasional Komodo? Berikut laporan terakhir Reporter KBR Aisyah Khairunnisa.

150909-kbr-ais-Bang Flori, guide di goa batu cermin jelasin wisata-wisata di NTT
“Oke selamat pagi. (Turis: pagiiii).. Selamat datang di Goa Alam Batu Cermin, ini merupakan satu-satunya objek wisata dalam kota. Selain yang utama itu komodo. Yang paling jauh danau 3 warna, Kelimutu. Terus ada beberapa tempat lagi yang sering dikunjungi. Danau Sananggoa, danau yang gak bisa hidup ikan, karena belerang. Itu 2 jam dari Manggarai Barat. Terus ada air terjung, Cunca Langi dan Cunca Wulang. Terus kampung tradisional, itu trackingnya 3-4 jam di hutan, Wae Rebo. Terus ada sawah seperti sarang laba-laba.
“Banyak sekali sebenarnya wisata di sini ya pak?”
“Iya, jauh-jauh tapi. Butuh tenaga butuh biaya banyak” 

Berbagai wisata alam nampaknya lengkap di tanah Nusa Tenggara Timur (NTT). Saya bisa melihat komodo yang hanya hidup di Indonesia. Saya bisa tracking ke bukit untuk melihat indahnya gugusan pulau-pulau yang tersebar di  NTT. Saya bisa snorkeling dan diving untuk melihat terumbu karang dan biota laut yang indah.

Karena perairan Taman Nasional Komodo terletak di daerah tropis. Pihak taman nasional menyebut ada lebih dari 1.000 jenis ikan, 380 jenis karang, serta menjadi habitat dan jalur migrasi sekitar 25 jenis paus dan lumba-lumba.  

Tentunya berbagai wisata ini membuat uang mengalir deras ke Komodo. Kepala Taman Nasional Komodo Helmi mengatakan, sejak Januari hingga Juni 2015, kas negara sudah menerima pemasukan hingga Rp 11 miliar hanya dari pos tiket masuk. 

Untuk turis lokal hanya dikenakan Rp 5 ribu per pulau, sementara turis asing di musim liburan harus membayar tiket masuk pulau hingga Rp 215 ribu. 

Untuk membangun NTT, pihak taman nasional memberdayakan  masyarakat untuk menjadi pemandu (naturalist guide).

“Mekanisme dengan masyarakat begini, begitu dia masuk ke pulau nanti bayar lagi untuk pemanduan. Kalau tidak (dipandu bisa) digigit komodo. Nah di situ bisnisnya. Bayar Rp 80 ribu per lima orang. Lima orang dipandu oleh satu guide. Kadang ada 1 orang, 1 pemandu. Lima ini kesepakatan yang kita bangun bersama masyarakat. Jadi bapak-bapak ibu-ibu masih bisa melihat orang kampung yang sehari-hari berhubungan dengan orang asing,” kata Helmi.

Hingga kini ada sekitar 60 naturalist guide di dua pulau yang ditujukan untuk wisata komodo. Ketua Koperasi Serba Usaha Taman Nasional Vincencius Latif mengungkapkan alasan mengapa masyarakat Pulau Komodo sekitarnya lebih utama untuk diberdayakan.

"Karena dalam pertimbangan kita, mempekerjakan orang dari luar banyak yang tidak bertahan di sini. Yang kedua mereka mengambil keuntungan saja mungkin di sini.Tapi kalau Kita buat lokal yang ada di kawasan ini mereka tidak akan kemana-mana. Kebijakan kita prioritas masyarakat yang ada dalam kawasan," kata Vincen di Pulau Rinca, Senin (1/9/2015).

Meski begitu, dari tarif Rp 80 ribu hasil pemanduan 5 orang turis, tak semuanya masuk ke kantong pemandu. Naturalist guide hanya akan mendapat separuhnya, Rp 40 ribu. Separuh lainnya menjadi pemasukan negara dan biaya kesejahteraan pengelolaan kebutuhan pemandu.

Atmos suara ombak di pelabuhan

Standup Ais di pelabuhan malam
“Pukul sembilan malam waktu indonesia tengah. Suasana di Pelabuhan Labuan Bajo nampak sepi. Kapal dan perahu bersandar di pelabuhan, namun beberapa kapal terlihat sampai setelah membawa turis berlayar”

Malam itu saya bertemu Aldo. Warga asli Pulau Komodo yang kini menjalankan bisnis sewa perahu untuk wisata. Meski pihak taman nasional sudah memberdayakan sebagian masyarakat untuk menjadi pemandu, tidak demikian dengan Aldo. Ia dan sejumlah masyarakat Pulau Komodo malah merasakan mata pencahariannya dipangkas dengan penertiban pengelolaan taman nasional.

“Ini sudah banyak orang bawa kapal. Di Komodo sekarang sepi banget, seakan-akan tidak ada orang di sana di Kampung Komodo. (Kenapa?) Orang Komodo keluar semua, pada datang ke Labuan Bajo, pergi kerja. Karena di sana mata pencariannya ketat banget. Mereka akhirnya pergi ke Bali, Makassar, Jakarta," kata Aldo di dermaga kayu, Senin (1/9/2015).

Awal dibukanya wisata Komodo, Aldo sempat berjualan baju, patung dan mutiara. Namun kebijakan taman nasional melarang masyarakat untuk berjualan. Karena sudah ada toko souvenir di setiap pulau.

"Pernah juga saya orang penjual (jadi penjual) sampai 2 tahun. Itu sesudah dilarang. Saya jualan sudah dapat speedboat ini. (Wih keren..) Tapi mereka larang, jangan jual di sini. Tapi kami jawab, kami kan tidak pergi curi, kami datang jual. Kalau ada sampah, kami bersih-bersih,” kata Aldo.

Walhasil, meski omzet penjualan souvenir jauh lebih besar, kini Aldo memilih menarik perahu. Sekali jalan perahu dengan kapasitas 10 orang disewakan seharga Rp 6 jutaan. Namun itu lebih baik baginya, dibanding harus kucing-kucingan dari kejaran polisi hutan (polhut) saat berjualan di pulau sendiri.

“Kalau kita penjual, pusing, dikejar-kejar orang. Kalau polhut tangkap, barangnya disita, dibawa ke kantor. Dia bilang sampai di kantor barangnya kalian ambil kembali. Tapi kami datang ke kantor, barangnya gak diambil semua. Itu semua orang Komodo pusing. Pencairannya kebanyakan di sini semua. Bawa kapal,” kata Aldo bercerita.

Kepala Taman Nasional Komodo Helmi menyadari masih ada banyak PR yang harus dilakukan untuk menjadikan NTT menjadi wisata dunia dengan fasilitas bertaraf internasional.

Demikian SAGA KBR, saya Aisyah Khairunnisa, terima kasih sudah mendengarkan. 

===


NAH. PUSING GAK BACA NASKAHNYA?
Hehehe.. Maaf bukan kronologi runut perjalanan. Memang liputan saya lebih memotret soal kehidupan dan pengelolaan wisata di Taman Nasional Komodo.

Tapi supaya memudahkan, saya buat tulisan lanjutan soal itinerary, foto-foto, dan harga wisata di sana yaa.. See you di lapak sebelah.

Salam.
Aiskhairun.
Contact: aisyah.khairun@gmail.com

Komentar

  1. nice article... seru banget ya liburan ke pulau Komodo.. salamkenal dari outbound Malang

    BalasHapus
  2. Penasaran dengan Keindahan Pulau Komodo, kalau boleh tahu berapa bajet yang harus kita sediakan untuk liburan ke pulau komodo yah?

    BalasHapus

Posting Komentar